ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI), OTAK (AKAL PIKIRAN), DAN DIMENSI RUHANI
ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI), OTAK (AKAL PIKIRAN), DAN DIMENSI RUHANI
AI (Articial Intelligence) adalah seperangkat alat yang mampu memproses dan menyajikan data dalam waktu yang relatif singkat. Dengan data yang sudah tersedia sebelumnya dan dikreasikan oleh pembuatnya (kreator) AI hampir mampu menjawab setiap pertanyaan dengan jawaban yang kompleks. Fungsi AI dalam sektor pendidikan maupun sektor lainnya adalah untuk membantu dan mempermudah kerja manusia. Dengan bantuan AI pekerjaan manusia menjadi lebih efektif dan efisien.
Fungsi AI (Articial Intelligence) dalam membantu dan memudahkan pekerjaan manusia seperti halnya fungsi dan kedudukan otak (akal pikiran) manusia. Meski demikian AI tidak se-vital otak. Otak adalah organ yang sangat vital bagi manusia, otak adalah organ kompleks yang mengendalikan fungsi tubuh, pikiran, dan emosi. Otak adalah organ yang terdiri miliaran sel saraf yang saling terhubung. Bisa dikatakan otak adalah instrumen atau perangkat yang membantu dan mempermudah manusia dalam mengarungi kehidupan di dunia, membantu manusia mengolah informasi atau data, membantu manusia dalam mengkreasikan sutau benda menjadi benda dengan rupa dan bentuk yang berbeda, membuat manusia bisa mengimajinasikan sesuatu, membantu manusia dalam hubungannya dengan sesama mahluk, dan membuat manusia menjadi lebih inovatif. Dengan keberadaan otak (akal pikiran) derajat manusia menjadi berbeda dengan mahluk lainnya, misalnya hewan.
Dengan dorongan dari dalam dirinya (rasa keingintahuannya) yang ditopang dan diakomodir oleh otaknya (akal pikiran) manusia selalu berupaya menemukan dan mencari jawaban tentang berbagai fenomena yang terjadi di sekitarnya maupun alam raya, termasuk pencipta alam semesta (Tuhan). Rasa ingin tahu yang membuat manusia berusaha mencari, meneliti, dan mengungkapkan jawaban dari berbagai fenomena yang terjadi.
Pencarian dan penemuan yang membuat manusia mengemukakan jawaban berdasarkan ukuran kemampuan dan jangkauan akalnya serta instrumen yang digunakan dalam pencarian/penelitiannya. Pencarian dan upaya penemuan yang membuat manusia terus belajar untuk mengungkapkan jawaban dari pertanyaan (kerangka berpikirya) dan memuaskan rasa ingin tahunya.
Ya, manusia seringkali mengemukakan jawaban maupun pernyataan tentang berbagai fenomena yang terjadi di alam raya berdasarkan kemampuan dan jangkauan akalnya. Khusus mengenai eksistensi/realitas Tuhan ketika menggunakan media akal dan insrumen pendukung lainnya kadang membuat manusia jatuh dalam kebuntuan dan kesesatan berpikir. Sebab terbatasnya kemampuan akal maupun alat/instrumen yang digunakan.
Tuhan bukanlah realitas yang dapat dijangkau dengan akal pikiran. Kalaupun bisa hanyalah terbatas pada perumpaan, penganalogian, dan metafora tentang realitas keberadaan (adanya) Tuhan. Sebatas pada penganalogian dan metafora dengan media atau wujud ciptaanNya.
Karena sadar akan terbatasnya jangkauan dan kemampuan akal manusia berusaha memahami, mengenali, dan mendekati realitas dan eksistensi Tuhan dengan cara lain. Salah satu cara atau jalan yang ditempuh adalah jalan tasawuf (Sufisme). Para pengamalnya sering disebut sufi. Para sufi berusaha mendekati dan mengenali realitas tunggal yang diyakini bernama Allah dengan cara melihat ke dalam diri, mendalami, dan mengenali dimensi bathin dan dimensi lahiriah (raga/fisik). Meskipun dimenasi lahiriah menjadi perhatian titik fokusnya adalah dimensi bathin.
Dalam upayanya ini ditempuh dengan ragam metode salah satunya Dzikrullah dengan mengingat (menghadirkan) eksistennsi Allah dalam diri bathin, mengikis keakuan diri, mengikis sifat-sifat tercela, menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji, dan menangkap rahasia di balik berbagai fenomena alam raya. Sebagai dampak dari upanya mereka akan menjadi abdi Allah baik dalam lingkup lahir maupun bahin, syariat maupun hakikat. Syariat maupun menuju jalan keselamatan (Islam).
Komentar
Posting Komentar